KISAH 30 JUZ ALQURAN MENJADI SEBARIS
Maulana Syaikh Ali Jum'ah berkisah:
Guru alquran saya, Syaikh Muhammad Ismail al-Hamadani adalah seorang ahli quran yang menjadi muqri' (pengajar alquran) di ruangan al-Atrâk, Masjid al-Azhar.
Suatu hari beliau mengaku kepada saya: "Tahukan kamu, wahai Syaikh Ali, bahwa aku tidak pernah lagi membaca alquran secara langsung sejak 50 tahun lalu?" Ucap beliau yang memanggil saya sejak dulu dengan sebutan 'Syaikh'.
"50 tahun? Bagaimana mungkin?" Ujarku dengan heran.
"Ya, ini karena aku setiap hari menyimak, mendengarkan, dan membenarkan bacaan para penghafal alquran yang mengaji kepadaku. Ada yang baca al-Baqarah dan lain-lain, sehingga setiap 3 hari aku telah mendengarkan seluruh alquran dari murid-muridku. Alquran bagiku telah menjadi bagaikan satu baris saja yang selalu berada di hadapanku. Tidak pernah menghilang. Silahkan kalau kamu mau menguji hafalanku. Silahkan uji diriku dengan yang paling sulit, seperti pertanyaan: Ada berapa عزيز حكيم di alquran? Saya akan jawab dengan detail, berapa banyak dan di mana saja."
Saya mempercayai beliau dan malu untuk menguji.
"Wahai Syaikh Ali, dengarkanlah, aku mau bercerita padamu," ujar beliau.
"Silahkan," jawabku.
Beliau mulai bercerita:
Dulu, saat pertama kali aku pindah ke Kairo, aku dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit, sampai saya tidak bisa membeli makanan. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan alquran dan fokus bekerja mencari penghasilan sebagai kuli bangunan.
Setelah dua atau tiga tahun, guruku, Syaikh Abdul Aziz Sahhar, mengirimi aku surat agar aku segera menemui beliau. Aku tidak menjawab panggilan beliau karena mungkin beliau akan memintaku menjadi imam tarawih, padahal aku telah menjauh dari dunia hafalan alquran demi mencari sesuap nasi.
Kemudian beliau mengirimiku surat untuk yang kedua bahkan ketiga kalinya. Akhirnya aku terpaksa menemui beliau.
Setelah beliau membuka pintu rumah dan mempersilahkanku masuk, beliau langsung menampar mukaku dengan sangat keras. Anehnya, hati dan tulangku merasakan kenikmatan luar biasa dari tamparan keras ini. Sampai aku tidak ragu untuk berkata kepada beliau: "Tolong tampar aku lagi, sungguh hati ini merasakan tamparan anda begitu indah".
Beliau berkata: "Wahai muridku, sungguh aku tidak pernah bermaksud menyakiti dan menamparmu. Ini adalah perintah Sayyidina Husain bin Ali 'alaihimassalam. Beliau mendatangiku dalam mimpi dan berkata: Panggil muridmu itu dan pukulilah dia agar sadar pada potensinya dan kembali kepada alquran! Aku pun berkata kepada beliau: Baik, aku akan panggil dan memukulinya. Tetapi kamu tak kunjung datang, Sayyidina Husain kembali mendatangiku dalam mimpi untuk kedua dan ketiga kalinya. Pada kali keempat, beliau mendatangiku dengan marah, "Jika kamu tidak dapat memanggilnya, maka aku akan memukulimu!" Kata beliau.
Meski begitu aku masih ragu pada diri sendiri. "Tapi bagaimana mungkin?! Aku telah meninggalkan semuanya sejak dua tahun!" Keluhku.
"Aku tidak peduli. Ini adalah urusanmu dengan Sayyidina Husain!"Jawab beliau dengan tegas.
Demi Allah aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku begitu pusing memikirkan ini hingga aku berjalan pulang sambil berpegang pada pagar dan tembok di tepi jalan. Ajaib! Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku mendengar bait-bait kitab Syâtibiah, entah dari mana, sampai aku benar-benar mengingat kembali hafalan yang telah aku tinggal lebih dari dua tahun ini!
Aku langsung berwudlu dan salat. Kemudian saya keluar rumah. Anehnya lagi, aku kembali mendengar bait-bait kitab Thaybah sampai aku benar-benar mengingatnya kembali setelah lebih dari dua tahun aku tinggalkan!
Sejak saat itu alquran tidak pernah berpisah dariku, bahkan aku tidak bisa melupakannya. Sungguh 30 juz alquran berada di hadapanku bagaikan sebaris saja.
Ust Adli al Qarni



Categories :
ahmad sholihin

0 comments:
Post a Comment